Uji Coba Penembakan Rudal TNI Angkatan Laut

You may also like...

10 Responses

  1. Shinto says:

    Tulisan yang menarik mas, saya menarik kesimpulan ada 2 pokok permasalahan kekuatan persenjataan AL saat ini mas disamping permasalahan platform dan datalink..

    1. Kebutuhan mendesak pembelian heli ASW sebagai penunjang “mata & telinga” bagi jangkauan persentaan strategis.
    2. Walaupun sebagian armada kapal AL telah dilengkapi rudal2 strategis, tp belum dilengkapi dengan kemampuan senjata penangkis / pertahanan seperti Phalank & Goalkeeper, sehingga masih rentan terhadap serangan rudal lawan.

    cmiiw…

    • betul mas, untuk ofensifnya secara garis besar memang masih membutuhkan heli/pesawat beradar maritim, serta tak lupa integrasi antar sistem senjata harus bisa dilakukan secara real time. Untuk pertahanan kapal juga harus diperhatikan, karena keselamatan kapal dan awaknya juga amat penting

  2. arbro says:

    uji coba yang bagus untuk meningkatkan kemampuan tempur prajurit,

    tapi mengenai yakhont mas, apakah ini berarti kita harus lebih meningkatkan populasi c-802 dibandingkan yakhont?

    mengingat negara kita lebih senang yang murah2?

    • keduanya sangat penting, karena yakhont meskipun mahal memiliki detterence yang tinggi jika dibandingkan C-802. Meskipun tentu saja tidak bijak kalau yakhont semua, karena ruang di KRI juga terbatas, tidak semua bisa memuat yakhont. Selain itu, rudal subsonik dan supersonik memiliki keunggulannya masing-masing

  3. Lodra says:

    Tulisan menarik mas Prima …..Heli AKS, ASW CN 235 harus segera dimiliki sehingga sasaran di Horizon sekian ratus KM ( OTHT ) bisa teratasi, dan tentunya YAKHONT tetap harus hadir mengingat alat peluncurnya juga telah terpasang di kapal Kelas Van Spijk, sangat sayang jika disia siakan, perlu di beli lagi.
    Kegagalan saat 1 ditembakan dijadikan renungan dan dicari solusinya yakni Mata. Telinga utk sasaran OTHT, bagaimana perkembangan kedepan apakah akan tetap C 802 atau C705 yang akan mendapat ToT dengan segala tetek bengeknya yg rumit bin pelit dengan syarat syaratnya…Untuk SUT apakah bisa di kembangkan secara mandiri utk memnambah daya jangkau diatas 40 KM

    Salam

    • betul, pengadaan alutsista hendaknya saling terintegrasi satu sama lain, tidak hanya melihat keunggulan dari suatu sista tertentu. Secara prinsip, pengembangan torpedo/rudal akan mudah dilakukan jika kunci terhadap teknologi tersebut sudah kita miliki. Dengan pengetahuan dan dukungan fasilitas serta dana, hal tersebut tidak akan menjadi mustahil

  4. Charlotte C. Wyatt says:

    Perjalanan rudal Yakhont hingga mengenai sasaran seperti terlihat ketika rudal ini mengenai KRI Teluk Bayur pada uji coba April 2011 (photo : Kaskus Militer)Pada tahap manuver lapangan Armada Jaya XXXI/2012 yang dimulai tanggal 9 hingga 22 Oktober, kekuatan yang dikerahkan secara kuantitas kurang lebih 5.500 personel, 35 kapal perang berbagai jenis (kapal selam, perusak kawal rudal, kapal cepat rudal, perusak kawal, angkut tank, buru ranjau, kapal tanker dan kapal bantu tunda), 6 pesawat udara, 1 Batalyon Tim Pendarat Marinir beserta 93 kendaraan tempur Pasukan Pendarat.

  5. Bambang Ts says:

    Tulisan dan ulasan menarik Pak Kadiv …
    Memang tantangan terberat dari modernisasi dari Alutsista adalah “ke istiqomahan” untuk memilah mana kebutuhan dan keinginan. dengan alokasi anggaran yang lumayan besar sekarang, sudah semestinya pada pemangku kepentingan melaksanakan modernisasi sesuai dengan Postur yang sudah dirancang dan bukan berdasar “Like or Dislike” ketika pucuk pimpinan berganti… Semoga

  6. TINGKATKAN TERUS PROFESIONAL TUGAS SEBAGAI PRISAI BANGSA..TIDAK GENTAR,PANTANG MENYERAH,MATI LEBIH MULIYA,TIDAK PENGECUT

  7. Gun says:

    Produksikan kami alutsista dlm negeri yg cnggih pak,,jangan beli terus,,,kami bangga indonesia jika bisa sperti iran dn korut yg tdk mau tunduk sama usa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *