Tantangan Kepemimpinan Militer Di Era Perubahan

You may also like...

14 Responses

  1. Bambang Trisutrisno says:

    Tulisan menarik mas, menurut saya selain hal diatas yang juga menjadi tantangan bagi seorang pemimpin di disiplin apapun (bukan hanya Militer), yaitu kemauan untuk belajar dan menerapkan falsafah hidup sebagai manusia Indonesia. Sehingga, yang akan muncul adalah manusia dengan yang memang mumpuni dari hal ilmu, teknik dan karakter namun tetap menjiwai “style” ke-Indonesiaannya.

    • Jon K. Ginting says:

      Betul mas. Yg sy sampaikan mmg msh sngt generik universal. Persoalan “attitude” yg sy sampaikan di situ sejatinya mmg mencakup nilai-nilai moral, yg dlm konteks Indonesia, tentu saja nilai-nilai ke-Indonesia-an yg semuanya ada dlm Pancasila. Thx masukannya mas…

  2. brata says:

    Super sekali bang,

    Sekedar pandangan awam saya, bahwa yg terjadi saat ini justru idealisme selalu berdasarkan selera; obyektifitas pun sesuai selera sang pemimpin; subyektifitas menjelma menjadi obyektifitas “jadi2an”. Ketika software dibuat dengan idealisme dan kenyataan, akan tapi pelaksanaan selalu menyesuaikan selera siapa pun yg memimpin dengan dalih “judgement of a leader”. Ujungnya muncul kalimat “if you wanna change the comfort zone, changed by yourself when you have a seat over here”.

    • Jon K. Ginting says:

      @Brata: Hehehe…mmg itulah yg ada di sini. Itu sebabnya hampir mustahil bagi siapapun yg akan mencari referensi ttg “militer & perubahan” di sini (saya justru dapat bbrp acuan akademis yg bagus dr bbrp negara spt USA, UK, Belanda, & Kanada). Sejatinya, kalau kita memahami salah satu jati diri kita sbg “Tentara Rakyat” (citizen soldier), maka dinamika kita (TNI) hrs sejalan dgn dinamika rakyat/masyarakat. Artinya, kita hrs adaptif, dinamis, & “open-minded” trhdp perubahan. Tentara rakyat adl mereka yg tidak sedikitpun mau mengkhianati rakyat, termasuk melakukan korupsi yg notabene “mencuri” uang rakyat/negara. Perubahan adl keniscayaan, & siapapun yg tidak mau menerima perubahan atau tidak siap menyesuaikan dirinya, akan menjadi korban perubahan itu sendiri…

      Salam,
      JKG

      • brata says:

        Siap, setuju sekali bang. Harapannya perubahan harus dimulai dari sekarang, bukan menunggu nanti utk “kami, kita maupun kamu”, dan jika perubahan hanya setengah2 tidak akan menghasilkan apapun juga selain “kegamangan” dikemudian hari…bahkan ironis ketika “membenarkan yg biasa” sudah dianggap sebagai sistem, padahal sistem tidak pernah salah melainkan telah dinodai saja dalam pelaksanaannya.

        Demikian bang, harapannya slogan akan menjadi kenyataan…

  3. Saya ingin mengutip bagian ini mas “Di satu sisi, seorang pemimpin militer adalah individu yang tak berbeda dengan orang-orang yang dipimpinnya. Iapun terkena dampak dari perubahan sosio-ekonomi yang berimbas pada perilakunya. Namun ia adalah seorang individu yang memiliki tanggung jawab, kewenangan, serta memikul kewajiban-kewajiban tertentu pada orang-orang yang dipimpinnya”

    menjadi menarik bagi saya, jika terjadi perubahan sosio ekonomi, apakah akan berimbas pada perubahan doktrin yang dianut oleh unit militer yang dipimpin?

    • Jon K. Ginting says:

      Pada dasarnya, doktrin adl sesuatu yang “diyakini kebenarannya, dan nilai2 di dalamnya telah teruji dalam pengalaman”. Itu sebabnya, meski doktrin tidak boleh kaku, harus dinamis & adaptif, namun nilai2 & norma2 di dalamnya harus tetap. Nilai2 & norma2 itulah sandaran bagi para pemimpin utk memimpin anak buahnya. Bila kita melihat dinamisasi doktrin, & bahwa doktrin-pun memiliki stratifikasi (mulai dr doktrin dasar hingga doktrin pelaksanaan/teknis), yg sebenarnya di-dinamisasi & di-stratifikasi-kan adl “mekanisme” dan “tataran kewenangan”-nya. Nilai2/norma2 nya akan tetap.

  4. Rizky Pratama says:

    menurut saya tulisan sangat berani bang Ginting, namun dibalik keberanian tersimpan kenyataan yang wajib di apresiasi demi kepemimpinan di masa mendatang, paradigma yang statis tidak akan bisa mengikuti perkembangan dunia yang sangat dinamis untuk itu perlu terobosan,

    • Jon K. Ginting says:

      @Rizky Pratama: saya hanya menyampaikan pandangan2 universal, yg diakui & diterima oleh militer2 manapun di dunia. Literatur2 justru sy dapatkan dari luar. Bagaimanapun, perubahan adl keniscayaan, tak ada satu organisasi militer di manapun yg bisa menghindar darinya. Organisasi militer tak ubahnya individu, yg harus mau-suka atau tidak-menerima kenyataan perubahan. Otherwise, sooner or later they will only be the victim of the change itself…

  5. David Kumoro says:

    tulisan yang sangat menarik tentang kepemimpinan.pendapat awam saya semua kepemimpinan baik di sipil ataupun militer adalah sama.jiwa dari kepemimpinan itu sendiri yaitu bagaimana menjadikan orang2 yang ada di tim kita (saya lbh senang menyebut tim) mengikuti,mematuhi tanpa ada keterpaksaan, anggota tim yakin terhadap pemimpinannya tanpa ada keterpaksaan.saya jadi ingat tentang gaya kepemimpinan transformasional,Menurut Bass (1998) dalam Swandari (2003) mendefinisikan bahwa kepemimpinan transformasional sebagai pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi bawahan dengan cara-cara tertentu. Dengan penerapan kepemimpinan transformasional bawahan akan merasa dipercaya, dihargai, loyal dan respek kepada pimpinannya. Pada akhirnya bawahan akan termotivasi untuk melakukan lebih dari yang diharapkan. adakah di TNI kepemimpinan seperti ini??

    terima kasih

    salam.

    • Jon Keneddy Ginting says:

      Terima kasih Mas David atas tanggapannya. Saya sepenuhnya setuju bahwa prinsip2 kepemimpinan pd dasarnya sama (universal). Itulah sebabnya saya sampaikan di situ bhw “Leadership doesn’t change. What changes is the way we look at it.” Saya juga sependapat bhw kepemimpinan yg transformasional adl bentuk kepemimpinan yg efektif dlm banyak konteks. Itulah sebabnya saya juga menyampaikan bhw pada pemimpin militer masa depan dibutuhkan “adaptability to change” (kemampuan menyesuaikan diri thdp perubahan). Artinya, konsep & pola pendekatan yg digunakan tidak bisa sama dari waktu ke waktu (meski scr struktur, hirarki dsb sbh organisasi militer relatif sama). Hal ini terjadi krn paradigma di sekeliling militer itu sendiri yg berubah, yg pd gilirannya mempengaruhi militer baik scr individu (sbg bagian dr masyarakat itu sendiri) maupun scr institusi. Singkatnya, transformasi dlm pola pandang & pola pikir itulah mmg sejatinya ide dasar tulisan tsb. Thx sekali lagi Mas…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *