Satelit Khusus Militer, Sudah Butuhkah Kita?

You may also like...

16 Responses

  1. THambrata says:

    Bagus mas Majid, sudah selayaknya kita memiliki sat mil yg setara dengan yg dimiliki negara2 maju mengingat luas NKRI membutuhkan sistim yg dapat mengintegrasikan seluruh kemampuan yg akan dimiliki..

  2. Bambang Ts says:

    Tulisan yang bagus mas, apalagi tantangan keamanan komunikasi sekarang yang bisa dibilang “sangat memprihatinkan” sudah selayaknya KEMHAN/TNI berfikir untuk membangun jaringan komunikasi mandiri, sehingga kerahasiaanya dapat dijaga…

    • Abdul Majid says:

      iya betul mas. harusnya kemhan sudah menempatkan komunikasi dan integrasi alutsista ke level kebutuhan utama

  3. fahmy says:

    satelit merupakan peralatan yang strategis bagi angkatan bersenjata kita,untuk menghindari rawannya data2 penting jatuh ke tangan “musuh”

    • Abdul Majid says:

      yap dan “musuh” kita juga semakin abstrak, sulit ditentukan siapa “musuh” kita sebenarnya

  4. Bambang Wahyudin says:

    Saya sedang berfikir bagaimana TNI kita tidak ketergantungan alat komunikasi dg gunakan Satelit Khusus. kemudian saya baca artikel bapak di Internet, dan saya bangga ada ide seperti ini. mudah mudahan tercapai cita cita kita.

  5. Ignatius Widi says:

    Berbicara tentang satelit, saya pribadi menilai bahwa sudah saatnya kita melangkahkan kaki menuju ke sana. Teknologi satelit,akan memungkinkan kita untuk melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan dengan teknologi konvensional. Komunikasi sebagai salah satu kemampuan teknologi satelit memang memegang faktor krusial, tetapi sangat sayang jika satelit militer diluncurkan hanya untuk kepentingan komunikasi. Selayaknya satelit ini bisa berfungsi juga untuk reconnaissance, untuk membangun konsep network dalam setiap aspek pertahanan, untuk sistem kendali terhadap UAV Indonesia, selain untuk komunikasi sendiri. Sudah saatnya kita melangkah, sekaligus menyiapkan diri untuk mengawakinya. Jika bukan kita, siapa lagi?

    • Bambang Ts says:

      Betul sekali Pak Widi… dan bicara soal kemampuan, saya yakin Bangsa ini mampu, namun entah mengapa kemauan untuk kearah sana masih sangat sedikit sekali. seharusnya, jika kita melihat bagaimana sekarang GPS sudah “membudaya” di masyarakat dan terbukti cukup membantu dan menjadi “trend” komunikasi dan informasi maka menurut saya sudah seharusnya pemerintah berfikir bagaimana menyediakan yang lebih spesifik untuk TNI sehingga keamanan data dan informasi TNI bisa lebih terjamin….

    • Abdul Majid says:

      betul mas, kalau tidak mulai dari sekarang, kapan lagi? untuk masalah fungsinya, kenapa saya mengusulkan untuk komunikasi terlebih dahulu, karena jelas kita tidak mungkin langsung tiba-tiba memiliki satelit untuk recon tapi komunikasi di TNI saja belum baik (yang saya tangkap dari statement petinggi2 TNI). Kedepannya, setelah fungsi komunikasi terpenuhi, fungsi yang lainnya tentu akan mengikuti, untuk recon,kontrol UAV,dll. Sedangkan untuk kemandirian bangsa di bidang satelit, riset satelit sendiri di Indonesia sudah cukup baik, seperti LAPAN A-2, yang kedepannya bisa dikembangkan untuk recon maupun informasi geospasial. Sedangkan untuk fungsi komunikasi, seperti LAPAN A-2 maupun Iinusat yang dikerjakan oleh akademisi beberapa PT terkemuka di Indonesia, sudah mulai dikuasai, dimulai dengan muatan(payload) berupa transceiver untuk komunikasi darurat, yang kedepannya dapat dikembangkan untuk komunikasi permanen. Namun kembali lagi ke hal yang paling mendasar, adakah niat pemerintah untuk mendukung kemandirian ini? sebab untuk proyek Iinusat sendiri misalnya, dana yang dijanjikan oleh Kemendikbud, dalam hal ini Dikti, tersendat, sehingga proyek ini tersendat pula. Padahal proyek ini cukup prestise, dengan dana yang didapat Kemendikbud sekitar 200 triliun dari APBN, harusnya tidak sulit mengeluarkan dana yang “hanya” sekitar 8-10 miliar untuk pembelajaran akademisi ini.

      • THambrata says:

        Masalah klasik adalah DANA….

        • THambrata says:

          Kalau masalah kemampuan saya yakin anak2 muda Indonesia mampu mengembangkannya, tetapi niat untuk mendanai nya belum ada sepertinya. “Njaluk susuk” ternyata konsekuensi nya cukup besar terhadap perkembangan teknologi dan strategis bangsa kita…

          Terus berjuang mas Majid, mudah2an bisa terus mengembangkan teknologi satelit kita dengan segala keterbatasannya…

          • yuniarti dwi pratiwi says:

            semoga saja bangsa Indonesia menghargai perjuangan dan usaha anak2 mudanya, dalam mengembangkan teknologi Indonesia.. (jadi teringat kisah habibie, dan hibibie2 lainnya)

  6. Arief Yunan Priyoutomo says:

    Setuju sekali dengan tulisan Mas Majid ini..
    Memang dimulai dengan komunikasi yang paling krusial..
    Kalo TNI masih nyewa transponder dari satelit komersial, sedangkan kepemilikan satelit itu entah sekian persen milik asing, pasti ancaman di-DF tetap tinggi..
    Cuma saya ada pertanyaan nih, selama ini kan kalo kita ngeluncurin satelit selalu piggybacking roket asing, kira-kira ada kemungkinan gak kalo dalam fase persiapan satelit itu “dijahili”?
    Kalau memang iya berarti memang kita harus meluncurkan dengan roket kita sendiri..
    Nah ini yang harus dikebut sepertinya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *