SADL (Situational Awareness Data Link), The F-16 Game Changer

You may also like...

11 Responses

  1. Bambang Ts says:

    Tulisan yang mantap.. “Integrasi komunikasi memang bukan penentu memenangkan perang, namun tanpa integrasi komunikasi maka perang akan sulit dimenangkan”

    OOT : Akhirnya… Keluar juga tulisannya 😀 semoga setelah itu segera lulus… hehehe

    • Arief Yunan Priyoutomo says:

      Betul Mas, yang jelas ketika seluruh pasukan tergabung dalam satu network maka objektif yang ingin dicapai akan lebih mudah dieksekusi..

      OOT: Amin..

  2. lucky lukman says:

    apache ngak ada fitur sejenis ini ya?

    • Arief Yunan Priyoutomo says:

      Untuk Apache yang dimiliki sekarang adalah UTA yang menghubungkan Apache Block III dengan UAV/UCAV..
      Selain itu mereka punya sistem sendiri yang dinamakan Blue Force Tracking, dengan backbone yang berbeda tetapi masih masuk ke dalam jaringan FBCB2-BCT US Army, sehingga mereka bisa mengetahui posisi satu sama lain namun hanya bisa mengirim tactical data message via network operator..
      Ini Mas, tak kasih bahan bacaan http://www.is.northropgrumman.com/about/ngtr_journal/assets/TRJ-2005/FW/05FW_Bitar.pdf

    • bahkan dari beberapa cerita dari Iraq, pasukan darat lebih seneng manggil F-16 yang pake SADL daripada apache buat close air support, karena resiko friendly fire lebih sedikit

  3. Shinto says:

    Datalink ini rentan terhadap penyadapan atau pengacak sinyal ga ya..? jika rentan, proteksi apa yang digunakan untuk mencegal kedua hal tersebut terjadi… terima kasih

    • Arief Yunan Priyoutomo says:

      Kalau menurut referensi yang saya dapat, khusus untuk SADL sudah diuji oleh NSA memiliki tingkat intersepsi yang rendah..
      Namun namanya menggunakan gelombang elektromagnetik pasti selalu ada kemungkinan untuk di-DF..
      Makanya pengembangan teknologi datalink gak pernah berhenti..
      Ini yang harusnya jadi tantangan bagi Indonesia untuk membuat teknologi datalink sendiri..
      F-16, Sukhoi dan mayoritas alutsista kita sudah menggunakan databus jenis MIL-STD1553B..
      Seandainya MAU dan NIAT, cita-cita mengintegrasikan seluruh alutsista kita dalam sebuah battlefield network bukan hanya mimpi di siang bolong..

  4. Saya tidak sependapat mengenai bagian artikel berikut :

    “mampu mengidentifikasi (fingerprinting) radar secara individu, dalam detail yang lengkap hingga serial number radar (jika sudah ada di database)[3].”

    Sementara di artikel ditulis sbb :

    “radar operating parameters with sufficient precision to ‘fingerprint’ individual radars from others of the same type”

    Kalau dari referensi dan pemahaman saya itu Radar hanya memancarkan informasi sebagai berikut yang dapat dimanfaatkan oleh ESM sebagai bahan identifikasi.

    -Frekuensi
    -Fase
    -Pulsewidth
    -Scanning Pattern (con-scan atau monopulse)
    -PRF
    -Jenis pemancaran (Pulsed atau CW)
    -Moda Operasi

    Untuk jenis pesawat yang sama mis Su-27 dengan N001.. itu tidak ada perbedaan dalam informasi diatas..jadi ya TS-2701 memancarkan informasi yang sama dengan TS-2702. Yang membedakan adalah alokasi frekuensi untuk mencegah interferensi elektromagnetik antar pesawat yang dapat terjadi seperti pada perang Vietnam pada F-4 (AWG-10/APG-59) dimana pada akhirnya sebelum terbang terpaksa teknisi F-4 melakukan tuning frekuensi secara manual dengan membongkar Radar set ..yang mengatasi masalah namun memperpendek umur radar hingga harus diganti tiap 2 minggu sekali.

    Dan informasi diatas itu untuk ESM hanya bisa digunakan untuk membedakan apakah yang memancarkan sinyal itu APG-66 atau N001 atau sebatas membedakan platform (Pesawat, Kapal atau darat) dan moda operasi Radar (apakah TWS atau STT atau moda lain). Tidak bisa secara spesifik sampai mengetahui apakah yang menyalakan Radar itu TS-2701 atau TS-2702 .. apalagi sampai tahu nomer serinya.

    Lebih lanjut dari sisi gramatikal .. kata “Type” di “to ‘fingerprint’ individual radars from others of the same type” itu terus terang saya lihat bersifat ambigu dimana Type ini tidak mengacu ke suatu “jenis” tertentu melainkan lebih ke “umum” dimana misalnya di suatu skuadron ada F-16 dan Su-27 yang menggunakan masing masing radar APG-66 dan N001 .. kedua jenis radar ini dapat digolongkan setipe yaitu AI (Airborne Intercept) Radar.

    Demikian pendapat saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

    • Arief Yunan Priyoutomo says:

      Trimakasih sebelumnya Mas Dhimas atas komentarnya yang sangat spesifik dan detail.
      Izinkan saya menjawab sanggahan Mas..
      Kebetulan saya memasukkan tentang kemampuan ESM Australia sehubungan dengan adanya latihan Pitch Black tahun 2012 lalu, di mana ada pertanyaan dari skuadron apakah perlu menggunakan pendekatan khusus dalam penggunaan radar oleh flight Sukhoi kita di mana keberadaan Wedgetail menjadi sebuah “gangguan” yang sedikit “mengganjal”.
      Pada saat itu saya mencoba mencari mission suite apa yang digunakan oleh armada Wedgetail RAAF, dan saya menemukan tentang artikel yang saya jadikan referensi di atas.
      Karena spesifikasi detail dari sebuah sistem EW adalah rahasia perusahaan yang tidak mungkin dijawab oleh pabrikan apabila saya menanyakannya langsung secara naif, maka saya asumsikan bahwa yang ditulis oleh Jane’s di atas adalah sebuah kebenaran.
      Dan berikut saya sertakan sebuah kajian tentang Specific Emitter Identification (SEI) yang menyimpulkan bahwa beberapa transmitter dari sistem radar yang notabene sama ternyata menghasilkan sebuah karakteristik yang distinctive sehingga dapat dibedakan antara satu sama lain.
      Berikut link dari kajian tersebut http://researchspace.csir.co.za/dspace/bitstream/10204/4161/1/Conning_2010.pdf
      Demikian kontra pendapat saya, dan terimakasih lagi atas perhatiannya terhadap kajian-kajian kami.

      Hormat saya,

    • Mas Dhimas, saya ingin menyampaikan tanggapan atas komentar anda, saya ingin membagi dalam 2 hal yaitu tentang radar fighter (berdasarkan sedikit pengalaman saya hands on) dan tentang ESM seperti ALR-2001 Odyssey di P-3 Orion dan AWACS Australia.

      Untuk radar fighter sendiri, memang secara roughly berdasarkan data spesifikasi satu dengan yang lainnya dalam satu type akan memiliki karakteristik yang sama. Namun harus kita ingat kembali, bahwa komponen elektronik memiliki karakteristik (output, noise, sensitivity, dll) yang tidak eksak pada satu nilai, tapi memiliki nilai toleransi yang harus dipenuhi agar komponen/alat tersebut dinyatakan lolos QC/ layak beroperasi setelah pemeliharaan. Di sinilah muncul karakteristik spesial antara satu radar dengan radar lainnya dalam satu tipe. Hal ini yang membuat seteliti apapun kalibrasi dan settingnya, sangat sulit membuat radar satu sama persis dengan lainnya (misalnya frequency dibawah standar tapi masih dalam range toleransi maka akan dianggap memenuhi daripada menaikkan frequency akan menambah noise sehingga melebihi nilai toleransi). Misalnya dari pengalaman saya N001 di sebuah sukhoi bisa memiliki noise dan frekuensi operasi yang unik (meskipun masih dalam range nilai yang sesuai manual dari pabrikan). Nilai nilai karakteristik ini telah diuji di pabrikan sebelum barang operasional dan dicatat dalam paspor komponen. Nah nilai nilai dalam paspor komponen ini yang akan menentukan kelayakan barang setelah dimaintenance, karena juga ada nilai maksimal perubahan antara nilai awal dan nilai akhirnya agar komponen dinyatakan tetap layak digunakan. Misalnya nilai frequency keluaran mid freq generatornya itu berapa Khz/Mhz, atau nilai freq sebelum masuk ke antena berapa nah nilainya kan tidak eksak sama satu dengan yang lain. Untuk testernya sendiri juga bisa menganalisa berdasarkan database karakter, dari situ bisa ditentukan apakah sudah memenuhi nilai toleransi yang sudah ditetapkan atau belum.

      Fingerprinting (istilah ini digunakan oleh produsen ESMnya, dan RAAF sendiri dengan bangga personilnya juga memakai istilah ini) pun memanfaatkan karakteristik unik ini. ESM mereka diset sangat sensitif untuk mendeteksi perbedaan yang relatif kecil dibanding nilai karakter umum radar (to be exact seberapa sensitif tentu cukup sulit diketahui dengan mudah, tapi di artikel janes dikatakan between -70 and -85 dBm) sehingga bisa membedakan radar satu dengan yang lain berdasarkan sedikit perbedaan noise, frequency, atau average powernya. Tetapi tentu saja ini membutuhkan database, nah database ini didapat dari pengambilan sampel dari radar yang akan difingerprint, sehingga dalam latihan seperti Pitch Black, mematikan radar menjadi krusial agar karakteristik individual radar tidak terpetakan. Meskipun tentu saja kalau mau repot masih ada celah yaitu mengubah setting radar setelah operasi (misal diturunkan freqnya, dinaikkan noisenya) tapi tentu saja untuk wartime response akan sangat merepotkan karena bongkar pasang kompartemen N001 bisa memakan waktu 1 harian penuh.

      Mungkin itu tanggapan dari saya, bila masih ada yang mengganjal silahkan disampaikan

      untuk sedikit tentang ESMnya http://articles.janes.com/articles/Janes-Electronic-Mission-Aircraft/ALR-2001-Odyssey-Australia.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *