Peran Krusial Pesawat Angkut dalam OMP dan OMSP TNI (Berdasar Tinjauan Terhadap Jumlah Pesawat Angkut Negara Sekitar)

2 Responses

  1. Arief Yunan Priyoutomo says:

    Izin koreksi Mas, untuk Hercules baik yang hibah maupun yang beli dari Australia semua berasal dari tipe H.
    Patut diperhatikan bahwa dalam hal pesawat terbang, dengan sedikit pengecualian pada jenis pesawat tempur, usia pesawat bukanlah faktor utama dalam hal kesiapan operasional.
    Namun faktor utama adalah kesediaan spare part dan muatan teknologi yang berada di dalamnya.
    Seperti pada kasus hibah+beli pesawat Hercules dari Australia ini.
    Walau di atas kertas, flight hour yang dicatatkan pada log book sudah cukup tinggi namun dengan populasinya yang banyak di dunia dan jaminan dari pabrikan akan ketersediaan suku cadang, menyebabkan opsi ini diambil pemerintah karena untuk membeli pesawat baru, baik dari jenis Herky tipe J atau pesawat lainnya, dana yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi jumlah yang diinginkan.
    Selain itu faktor kesiapan SDM dan fasilitas pemeliharaan serta dukungan simulator tentunya juga merupakan salah satu faktor di belakang keputusan tersebut.
    Lain halnya dengan F-27, dengan semakin banyaknya AU-AU di dunia yang mulai mengistirahatkan armada F-27, praktis penyumbang terbesar dari populasi F-27 adalah dari versi sipil yang digunakan beberapa airline di dunia, termasuk Merpati (data terakhir menyebutkan 164 unit pada Agustus 2006, dan kemungkinan sudah berkurang).
    Mesin F-27, Rolls Royce Dart, berasal dari akhir dekade 40an dan tercatat produksi terakhir pada 1987 seiring dengan produksi terakhir F-27.
    Saya bahkan tidak tahu kalo spare part mesin ini masih tersedia di pasaran atau tidak, karena mesin ini pun sudah jadi koleksi museum di negara asalnya Inggris.
    Selain itu pabrikan Fokker yang sempat dinyatakan bangkrut dan dua kali berganti pemilik hingga akhirnya diselamatkan oleh Stork AG, saya rasa juga menyumbang seretnya pasokan sucad untuk jenis pesawat ini.
    Kalaupun ada mungkin harganya sudah tidak ekonomis ataupun tidak dapat dipertanggung jawabkan kualitasnya.
    Beberapa faktor ini, dan tentu saja 2 kejadian total lost dalam kurun waktu 3 tahun, yang menyebabkan TNI-AU memutuskan untuk mengakhiri pengabdian dari pesawat ini.
    Keputusan pemerintah untuk memenangkan CN-295 atas C-27 dalam penggantian F-27 saya rasa sudah merupakan keputusan yang tepat karena CN-295 tak lain dan tak bukan adalah pengembangan dari CN-235 yang diproduksi bersama oleh PTDI dan AM yang tentu saja memudahkan bagi kita untuk mendapat ToT dari pesawat tersebut.
    Kalau saya gak salah dengar, skadron baru Herky akan disiapkan di Makassar untuk meng-cover area timur Indonesia.
    Jadi mari kita kawal proses pemenuhan MEF ini agar tidak keluar dari jalur sehingga kas negara yang digelontorkan untuk hal ini dapat tepat sasaran dan memenuhi tupoksi dari TNI-AU

    Hormat saya,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *