Mengenang Bandung Lautan Api di Tengah Euforia April Mop

9 Responses

  1. Shinto says:

    Jika memang pemerintah sendiri tidak bisa memberikan contoh konkret tentang perjuangan tempoh dulu, bagaimana rakyat bisa mencintai & menghargai negaranya..? Siapa yang salah jika sekarang ini masyarakat lupa akan sejarah, ataukah anak2 Alay yang memakai simbol2 negara buat maen2…? Apakah Pemerintah atau guru di sekolah….?

    • Afif Hendriawan says:

      wah kalau anak2 alay itu ,, wah sangat-sangat keterlaluan, mas. bagai manapun saya yakin mereka pasti sudah tau makna simbol negara dari orang tuanya, atau paling tidak dari sekolah. tetapi kenapa masih melakukan hal tersebut,? yang pasti dari media. trend narsisme, ingin di anggap keren, mungkin menjadi salah satu pemicunya.

  2. Padahal memberi contoh adalah bentuk perintah yang paling halus lo mas 🙂

  3. Yg tau memberi contoh, tanggung jawab sapa.peeritah? Bukan! Tapi tangung jawab indiidu. Org tua tanggung jawab pd anaknya, dan yg belom punya anak tanggung jawab pd dirinya serta lingkungannya

    • Shinto says:

      masalahnya sudah terlalu akut mas, orang tua aja sudah benar2 kehilangan semangat perjuangan.. gimana mendidik anak2nya kelak..?

  4. Lalu Fahmy Aditia says:

    jujur kalau untuk menghargai sejarah kita masih belum sebaik bangsa lain,beberapa waktu yg lalu saya dengar beberapa saksi sejarah seperti rumah pahlawan ingin di jual,atau banyak museum kita yg kondisinya kurang terawat,bandingkan dengan belanda yang menyimpan benda benda bersejarah yg mereka dapat dari nusantara di rawat sangat baik.
    menurut saya saksi saksi sejarah atau museum penting agar generasi muda seperti kita bisa tau bagaimana pendahulunya. saya rasa ini tanggung jawab kita semua,misalnya yang punya putra/putri sejak dini harus di berikan cerita atau akhir pekan di ajak ke museum,di depan kos saya ada museum KRI tapi sepertinya sepi pengunjung.

  5. Afif Hendriawan says:

    saya kira media juga sangat berperan penting. mungin saya bisa ambil contoh, negara jepang. yang saya tahu film kartuun atau anime jepang, komik-komik jepang banyak sekali yang menceritakan sejarah bangsa japang. di indonesia dulu era 90-an saya masih menjumpai hal-hal serupa lingkungan saya, berupa komik yang bercerita pertempuran surabaya, babad tanah jawa (ceritanya sampai proklamasi kemerdekaan kalau tidak salah).
    etapi jika melihat media yang sekarang. wah hanya mengelus dada..

    • mochamad istamar says:

      gak usah jauh2 mas…film tutur tinular yang mengambil latar sejarah kerajaan aja sekarang dibuat acak adut gak karuan, tokoh2 gak jelas karakter dan perannya masuk. pernah liat sedikit dan tidak menemukan unsur sejarah sama sekali. jika tutur tinular itu mask kategori sains fiction dengan kandungan sains waktu itu, sekarang tutur tinnular versi baru ini sepertinya pure fiction…

      meski demikian, kita ada juga mas film yang mirip dengan yang sampeyan contohkan di jepang. contohnya adalah yang berjudul KING, film itu juga bisa masuk kategori sains fiction karena memuat sejarah bulutangkis Indonesia. memang kita perlu film semacam ini berkembang, film yang mencerdaskan bangsa bagus juga jika mampu memelihara rasa kebangsaan kita, dan bagaimana bernegara yang baik itu.

      • saya jadi ingat mas, film seperti janur kuning itu selalu ditunggu2 di jaman saya SD dulu. Selain itu buku cerita bergambar kayak komik yang menceritakan kemerdekaan dengan cover bumi hangus+pejuang menancapkan bendera itu juga menjadi bacaan menarik yang senantiasa tak bosan kita baca. Ah nanti kalau pulang coba tak cari terus tak scan, dibuat versi PDF-nya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *