Lebih Jauh Tentang Foreign Military Sales (FMS): Cukup baikkah untuk indonesia? (Bagian 3 Selesai)

You may also like...

10 Responses

  1. Saya sangat setuju dengan pertanyaan “berguna atau cukup efektifkah produk-produk AS itu untuk mengaplikasikan doktrin pertahanan Indonesia (termasuk Operasi Militer Selain Perang/OMSP) secara riil?”

    dimana sista yang didapat dari FMS sebaiknya spesifikasi dan kelengkapannya disesuaikan dengan kebutuhan dan doktrin pertahanan Indonesia, bukan diterima as it is atau sesuai spek yang ditentukan oleh Amerika saja

    • Jon K. Ginting says:

      Betul mas, meskipun sy juga memahami bbrp konsideran lain dlm pikiran para pemimpin kita spt: keterbatasan ‘jumlah’ alutsista utk mengawal tanah air, keterbatasan peningkatan & pemeliharaan kemampuan personel (awak) dsb. Ini ‘tradeoff’ yg tdk mudah utk dicari ‘win-win solution’-nya. Tp yg jelas, kemandirian itu hrs segera direalisasikan sblm kita benar2 terperangkap dlm jerat ketergantungan… 🙂

  2. sephiror says:

    antara kebutuhan dengan keperluan trade off apakah sinergi kebutuhan menjadi dasar yang dilakukan sekarang, ataukah hanya menunggu ditawarkan barang “lepas” yang notabenenya tidak dimanfaatkan lagi di barat.

    seandainya jadi ketergantungan, skema ini menjadi pedang bermata dua namun yang ke arah kita lebih “tajam” bila mengiris bukankah begitu?

  3. Jon K. Ginting says:

    Saat ini, isu utama kita mmg ‘kuantitas’ krn rasio kesiapan alutsista dgn luas wilayah sngt timpang. Itu alasan utama kita menerima hibah 24 F-16 itu. Penerbang2 kita mau profisien gmn kl ngga pernah terbang? Trs apa yg mau kita gelar utk mengantisipasi ancaman kl pswt nya ngga ada? Dst. Tapi ke depan, setelah kita ‘settled’ scr kuantitas, kita hrs berpikir lbh jauh ttg kuantitas, dlm hal ini doktrin & kemandirian. Thus, oneday, bs saja kita tdk memerlukan lg mekanisme FMS (meskipun dlm pandangan sy hampir tidak mungkin krn kita sdh mengoperasikan alutsista buatan AS yg perlu kt maintain dgn sucad dr sana juga–>salah satu opsi nya ya FMS itu, selain DCS. Tapi meski ttp berjalan, skala & nilainya tdk lagi bombastis spt saat ini krn hny terbatas pd sucad2 kecil).

    • sephiror says:

      memang sungguh sangat disayangkan, padahal dulu kita mempersiapkan untuk kemandirian, namun komitmen tersebut tidak didukung dengan konsep “riset” tapi masih berkonsep “proyek”

      seandainya saja mindset nya sudah berubah, tentunya saat ini kita punya kemandiirian dalam posisi tawar, dan FMS yang ditawarkan tentunya hanya sebagai pelengkap dan mengisi posisi yang kosong saja..

      anyway, semoga kualitas pilot kita dapat meningkat dengan adanya hibah ini 😀

      • Jon K. Ginting says:

        Hehehe…sy yakin pasti berpengaruh positif mas. F-16 hny salah 1 contoh, sy dpt info juga bahwa selain F-16 (plus 10 lagi yg baru2 ini mrk tawarkan juga) kt juga dpt tawaran hibah Humvee & CH-47. Tp sekali lagi, sy ingin kt melihat FMS ini scr holistik, mulai dr payung nya smp elemen2 di bawahnya. Kl ada opsi lain yg lebih menguntungkan baik scr finansial maupun aplikasi doktrin, knp tidak?

        • mochamad istamar says:

          tanya mas, adakah opsi lain yang lebih menguntungkan dalam upaya akuisisi alut dari amerika? misal direct commercial sale.

          soal kebijakan ToT, dan Jaminan Bebas Embargo, apakah jika pemerintah mengambil FMS itu artinya pemerintah sama dengan mengkhianati kebijakan tersebut?

          • Jon K. Ginting says:

            Betul mas. Seperti sy jelaskan di tulisan itu, DCS mrpkn slh 1 opsi, meski ada jg keterlibatan USG di situ (penerbitan ‘export license’). Opsi lain: hybrid (gabungan FMS & DCS). Semua opsi itu (selama barangnya produk AS), tetap ‘subject to certain USG policies’ trmsk embargo, krn pemerintah AS berprinsip bhw produk AS tidak boleh merugikan kepentingan AS sendiri. Sulit-dan blm ada sejarahnya-kita bisa meminta jaminan 100% dr AS utk bebas embargo. Mgnai ToT, tetap dimungkinkan dgn mekanisme ini, meski bobotnya ya tdk akan 100%.

  4. Bambang Ts says:

    Hmn… konsekwensi FMS besar juga ya mas, selain soal uang yang cukup besar nominalnya juga konsekwensi penggunaan alutsista tersebut. Memang berdikari adalah jalan untuk menjamin negeri ini dapat berdiri diatas dua kakinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *