Lebih jauh tentang Foreign Military Sales (FMS): Cukup baikkah untuk Indonesia? (Bagian 2)

You may also like...

14 Responses

  1. Arief Yunan Priyoutomo says:

    Nah ini yang saya tunggu2 Mas..
    Saya sempat baca-baca sedikit tentang DSCA, SAMM, AECA, dan EDA yang tentu saja berhubungan dengan FMS di situsnya DSCA yang sekarang udah gak bisa diakses dari Indonesia lagi.
    Dan saya menemukan missing link antara tenggat Congress Notification dan review.
    Persis seperti yahg ditulis Mas Ginting, bahwa review hanya bisa dilakukan ketika Congress bersidang.
    Nah yang dimaksud dengan tenggat di sini apa Mas?
    Dan apa yang terjadi ketika sampai tenggat habis review itu belum keluar keputusannya?
    Karena seingat saya DSCA Congress Notification dalam kasus EDA F-16 dikeluarkan bulan November 2011, dengan kata lain pada bulan Januari sudah keluar keputusannya.
    Dan kalau tidak ada ribut2 hingga sekarang berarti sudah ada lampu hijau dari Congress.
    Betul begitu Mas?

    • Jon K. Ginting says:

      Yg dimaksud tenggat di sini adl batasan waktu maksimal bagi Kongres utk melakukan review & memberi jawaban pd DSCA. Utk case Indonesia maksimal 50 hari: 20 hari komunikasi informal + 30 hari review internal Kongres. Artinya, DSCA pny wkt plg bnyk 20 hari sblm sesi review formal oleh Kongres utk mengkomunikasikan bakal case FMS itu; bila dlm masa 20 hr informal itu Kongres tdk memberikan lampu hijau, maka DSCA akan menginformasikan pd SCO utk disampaikan pd negara (calon) pembeli utk tdk meneruskan case tsb.

      Utk case Grant EDA F-16 itu mmg sdh jalan kok mas (kode LOA nya ID-D-SAL); skrg sdh sampai tahap “Project Management Review/PMR”…

      • Arief Yunan Priyoutomo says:

        I see..
        Mungkin karena tidak termasuk dalam close allies, maka diberi tambahan waktu informal talk untuk melobi kongres untuk meloloskan case tersebut..
        Oke Mas, saya paham sekarang..
        Tak tunggu bagian 3 nya..
        Matur nuwun..

        • Jon K. Ginting says:

          Lebih kurang begitu mas. Hanya bbrp negara (trmsk NATO sbg organisasi) yg mendapat previlege berbeda (spt yg sy tulis di naskah)…

  2. THambrata says:

    Ijin bg. Mungkinkah jika pengetehuan seperti ini ada sosialisasinya ke satuan bawah sehingga skadud dan skatek benar2 memahami permasalahan sesungguhnya….sangat berharap semboyan “tiada dusta diantara kita” bisa membudaya dari aas kebawah maupun dari bawah ke atas….

    • Jon K. Ginting says:

      Kl dr perspektif sy pribadi, yg mjd concern sy justru “awareness” para pengambil kebijakan kita ttg FMS itu sendiri. Kl dampak ke satuan bawah, paling2 sebatas “lead time” yg mgkn agak lama/panjang krn proses FMS mmg tdk sederhana. Tapi kl bicara soal kualitas produk, sy 100% yakin bhw produk apapun yg diterima dr FMS ini pasti kelas satu, krn hrs lulus standard AS (apalagi bila pemenuhan produk/materiil kontrak itu bersamaan dgn pemenuhan kebutuhan AS sendiri).

      Nah, kl soal “awareness” yg sy mksd adalah, bgmn para pengambil kebijakan dpt memahami filosofi FMS scr menyeluruh, & sadar bhw ini adl bagian dr portofolio hbgn internasional AS yg didasarkan pd kepentingan mrk. Jd, ngga mgkn ada yg gratis dr sini, sklpun judulnya “grant”/hibah. Ini yg memerlukan kajian komprehensif, shg kita ttp bs menjaga keseimbangan antara kesiapan tempur dgn kesinambungan perolehan sucad. Anyway, nanti di Bag-3 sy akan sampaikan tersendiri mgnai hal ini… 😀

  3. Bambang Ts says:

    Ijin Mas, berarti salah satu syarat untuk mendapatkan persenjataan dari US perlu kajian pengembangan kekuatan negara calon costumer tersebut ya mas, hmn.. Sedetail apa mas kajian yang diberikan? Mencakup semua atau hanya action plan jika senjata dari US itu didapatkan?

    • Jon K. Ginting says:

      Jadi mas, kl dlm bahasa mrk, mrk menyampaikan kesediaannya utk membantu menganalisa kebutuhan apa yg sbnrnya sesuai utk menjawab kekurangan kita. Nah, kl kita ngajak mrk bicara soal itu kan berarti kita hrs uraikan bla bla nya mgnai renstra kita. Ini yg sy maksud bhw “kita harus cerdas”, & bijak dlm membaca FMS dlm konteks nya sbg bagian dr kebijakan luar negeri AS. Kita hny bs berharap bhw G-to-G apapun tdk mjd pembenaran utk mengungkap konsep pengembangan kekuatan kita.

  4. kalau efek terhadap keseimbangan kawasan itu kajiannya dilakukan oleh DoD, DSCA atau kongress mas?

    • Jon K. Ginting says:

      Tidak ada mekanisme atau stakeholder khusus utk ini. Itu sebabnya, persetujuan penerbitan LOA itu melalui filter yg ckp banyak, apalg utk negara2 yg bukan sekutu dekat AS. Ada ‘Presidential Determination’, ada ‘Congressional Review’, ada komunikasi pendahuluan antara SCO dgn negara pembeli dsb. Itulah sbnrnya bbrp sarana mrk utk mengkaji apakh LOA atw FMS itu kelak akan berdampak pd kepentingan AS di negara tsb atau utk kawasan sekitarnya. Bila sbh LOR tdk disetujui utk mjd LOA atau case FMS, berarti ada “sesuatu”: mgkn bisa materi kontraknya, mgkn bisa pandangan AS ttg kemampuan finansial si pembeli, atau mgkn faktor ‘non-teknis’ yg ujung2nya adl terancamnya kepentingan AS (kalaupun tdk di negara itu, mgkn di regional nya)…

  5. mochamad istamar says:

    jadi ada sedikit tambahan gambaran kenapa Amerika di posisikan 1 untuk diperhitungkan dalam strategical defence RI

  6. puguh says:

    Nice mas, ijin Copas kalau boleh di Grup FB. Untuk yang calon AH-64D Apache Longbow untuk penerbad, kalau saya lihat dari uraian diatas sudah sampai tahap LOA ya pak ?

    • Jon Keneddy Ginting says:

      Silakan mas. Utk Apache, sy tdk monitor prkbgnnya, mgkn bs ditnykan ke staf di Mabesad… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *