Kesiapan Alutsista (Weapon System Availability): Sebuah Perspektif Kuantitatif dan Manajerial

You may also like...

13 Responses

  1. brata says:

    Pencerahan baru lagi utk kami bang, terima kasih

    Dua yg membuat saya terharu dari kajian abang adalah:

    Dukungan: hal ini menurut saya telah menjadi dilema bagi pekerja lapangan, dimana mereka dituntut utk menghasilkan kesiapan yg tinggi, namun tanpa dukungan suku cadang yg memadai. Sehingga dengan terpaksa inovasi dikembangkan walaupun kadang melewati batas batas berbahaya menurut saya, contoh: ketika MDC cartridge telah masuk ex date, kemudian hanya dengan di uji coba sample ledakan sebuah barang expred dijadikan dasar bahwa barang lainnya dapat diperpanjang masa pakainya walau sdh kadaluarsa. Ini bukanlah kesalahan orang lapangan karena mereka telah bekerja maksimal utk meningkatkan kesiapan alutsista namun apa daya kurang dukungannya….

    Budaya kerja: memang sudah saatnya operator pengguna dan operator maintainance saling bersinergi utk tidak takut utk mengatakan takut jika memang tidak sesuai parameter yg ditentukan….karena budaya takut ternyata lebih baik daripada budaya “berAni”….

  2. Jon K. Ginting says:

    Dear Brata,
    Mewujudkan sesuatu yg (mendekati) ideal memang tidak mudah. Dlm tataran organisasi, tdk hanya faktor ‘manpower’ yg berpengaruh. ‘Culture’, setelah saya pelajari, trnyt memegang peranan yg tak kalah menentukan. Sehebat apapun SDM sbh organisasi, kalau kultur kerja di lingkungannya tdk bagus, ya SDM itu tak akan bisa berbuat banyak. Atas dasar pengamatan itu sy memasukkan ‘budaya kerja’ sbg salah satu penentu kesiapan alutsista. Dua yg lain (perencanaan & dukungan) adl 2 hal yg ‘compulsory’. ‘Fail to plan’ means ‘plan to fail’. Di sisi lain, tanpa dukungan yg memadai, pencapaian kesiapan adl omong kosong belaka. Namun bersabarlah, krn angin perubahan tak mengenal ‘apa’ atau ‘siapa’. Yg tidak menerima perubahan (trmsk perubahan budaya kerja), pasti akan tergilas oleh perubahan itu sendiri.
    Keep the faith, mate!

  3. ” Artinya, semua kebutuhan harus tersedia on the spot saat mereka dibutuhkan. Variabel-variabel tersebut akan kecil (mendekati nol) bila pelaksana tidak perlu lagi menunggu pengiriman suku cadang atau tools, tidak perlu mencari personel yang qualified, dan sebagainya.”

    Seperti mas brata mas, tentu saja idealnya kita inginkan semuanya sudah terencana dengan matang, sehingga maintenance bisa dilakukan sesuai jadwal yang ada (sesuai usia komponent) meskipun tidak dapat kita pungkiri pasti ada kalanya ada incident/accident yang membuat part yang belum habis umurnya harus diganti.

    Semoga kedepannya jumlah AWP/AOG parts yang harus menunggu pengusulan tahun berikutnya bisa berkurang drastis, sehingga kesiapan pesawat tidak harus turun selama 1 tahun hanya karena pengadaan suku cadang belum masuk dalam tahun anggaran berjalan. Dan semoga “pemanjangan” umur spare part tidak terpaksa dilakukan secara terus menerus demi menjaga kesiapan.

  4. Jon Keneddy Ginting says:

    @Mas Prima: tentu itu harapan semua yg ingin melihat angkatan perang kita lbh baik. Di sinilah diperlukan 3 hal yg td sy sebutkan di atas: para perencana yg handal, para eksekutor yg baik, didukung dgn budaya kerja serta budaya organisasi yg modern…

  5. Bambang Ts says:

    Tulisan yang sangat menarik dan mencerahkan mas,…
    Ada yang ingin saya tanyakan soal perencanaan diatas apakah ditentukan di awal tahun saja (progja tahunan) atau semisal ada kondisi tertentu bisa berubah dipertengahan tahun dan bisa beberapa kali dalam setahun..?? Semisal ada kondisi emergency yang harus didukung oleh part tertentu padahal tidak tersedia maka atas kebijakan pimpinan bisa diadakan, atau bagaimana…

    • Jon K. Ginting says:

      @Mas Bambang:

      Perencanaan kebutuhan (BUKAN perencanaan pembangunan kekuatan), idealnya harus memperhitungkan beberapa hal:

      1. kemungkinan waktu tunda (delay time), misalnya: kemungkinan terlambatnya turunnya anggaran, terlambatnya pengiriman, force majeure, dsb.
      2. statistik kecenderungan (trend stats) atau lesson learnt dr tahun2 sebelumnya ttg kecenderungan kegagalan (trend of failure).
      3. marjin kesalahan (error margin), yaitu toleransi yg diberikan utk hal2 yg tidak terduga (inflasi, kecelakaan dlm pengiriman, bencana alam dsb)

      Kalau hal2 tsb diperhitungkan dgn baik, resiko tidak terpenuhinya kebutuhan pd suatu waktu dpt ditekan di level minimum. Semakin sedikit perencanaan mengalami revisi, maka perencanaan itu makin baik. Di tingkat perencanaan kebutuhan, semestinya tidak boleh ada revisi, krn perencanaan kebutuhan merupakan bagian dr perencanaan Bangkuat. Artinya, proses utk menuju Renbut itu sdh melalui berbagai kajian perencanaan jangka panjang, menengah, dan pendek. Kalau Renbut itu sdh ‘melibatkan’ kajian perencanaan jangka menengah saja, at least dlm kurun satu tahun anggaran, tidak akan ada revisi.

      • Bambang Ts says:

        Terima kasih penjelasannya mas
        Hmn… jika fase diatas dilakukan, kemungkinan kendala yang dihadapi dalam penyiapan kesiapan dapat diminimalisir ya mas.

      • “Kalau Renbut itu sdh ‘melibatkan’ kajian perencanaan jangka menengah saja, at least dlm kurun satu tahun anggaran, tidak akan ada revisi.”

        nah ini yang penting dan harus diperhatikan mas, masak waktu satu tahun mau dihabiskan untuk revisi

  6. Tavip Hendra Permana says:

    menarik sekali mas tulisannya semoga kelak jadi profesor mas dengan adanya rumus tersebut.. 😀
    ada hal menarik yang saya singgung terkait Budaya Kerja dimana dalam hal ini sebenarnya Manajerial sangat menetukan “mimpi” dari sebuah ide-idenya hanya saja apakah Budaya Kerja dalam hal ini di Angkatan kita ini dapat dirubah dengan cepat layaknya organisasi Bisnis/organisasi swasta?
    -karena saya melihat organisasi di pemerintahan (untuk dekade lalu dan saat ini, sebelum peraturannya ganti kembali) berjalan biasa-biasa saja maksudnya ketika ada anak buahnya yang mempunyai ide brilliant tidak mati begitu saja hanya gara-gara seorang pemimpin tidak setuju dengan ide tersebut

    • Jon Keneddy Ginting says:

      Saya telah membuat tulisan tersendiri mengenai “kepemimpinan militer di era perubahan”. Di situ saya singgung mengenai kemungkinan2 yg harus dihadapi oleh para pemimpin militer saat ini, di mana segala sesuatu dlm aspek kehidupan masyarakat telah berubah. Perubahan mindset dan culture-set dlm sebuah organisasi militer memang hanya mungkin dgn pendekatan top-down, artinya harus dimulai dr atas ke bawah. Ini mengingat bhw dlm kultur militer di manapun, hirarki memegang peranan sangat penting dan dominan. Jadi, selama ada pemimpin militer yg adaptif, perubahan2 tsb (termasuk dlm budaya kerja), bisa diakselerasi. Kalau blm ada pemimpin yg spt itu, ya sabar aja…hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *