Intelijen Untuk Kepentingan Pertahanan Negara

13 Responses

  1. Shinto says:

    Intelijen ibarat dua sisi mata pisau ya om, satu sisi sangat dibutuhkan, sisi yang laen oleh sebagian masyarakat sangat dibenci. Jika peran intelijen lemah maka segala bentuk ancaman asimetris menjadi lebih terbuka lebar, baik itu terorisme sampai dengan Hybrid Threats, akan tetapi jika perannya terlalu besar maka ditakutkan akan menjadi alat penguasa seperti masa periode lalu. Oleh sebab itu pembahasan RUU KAmnas menjadi alot. Akan tetapi suka ato tidak suka, peran intelijen memang masih sangat diperlukan demi keamanan nasional.

  2. THambrata says:

    Betul sekali mas Shinto,

    Sedikit saya update tulisannya yaaaa…he he…

    saya menggaris bawahi tentang trauma masa lalu yang begitu menggoreskan tinta merah dalam sejarah Indonesia. Dimana semua “takut” dengan proses yang dilakukan oleh intelijen. Namun, itu dalam pengertian yang sempit saja. Kalau kita mau sadari dalam arti yang luas sejujurnya justru intelijen adalah kawan baik atau sahabat rakyat sebagai satu2nya kekuatan yang tetap bergerak tanpa pujian walau dalam kegemilangan dan di caci maki dalam kegagalannya. Memang, dibutuhkan sebuah komitmen dan kesadaran yang sangat mendalam dengan jati diri untuk bisa menjadi ideal, akan tetapi dengan kondisi saat ini yang sarat dengan kompleksitas kekuatan intelijen lah yang tetap berputar roda giginya sehingga stabilitas nasional tetap bisa dipertahanlkan dengan segala macam dinamikanya…

    • Shinto says:

      menurut saya mungkin peran intelijen juga tergantung dari segi mana masyarakat melihatnya om, klo dari sisi kacamata aktivis dan penggiat HAM, mungkin akan kontra habis2an, bisa karena trauma masa lalu ataupun upaya pelemahan kekuatan dari pihak sponsor, akan tetapi dari segi pertahanan nasional, peran intelijen mutlak diperlukan apalagi dlm kondisi saat ini yang rentan terhadap ancaman asimetris… just my op 😀

      • THambrata says:

        Betul mas shinto,

        Maka dari itu perlunya komitmen dan kesaaran dari berbagai komponen kerakyatan untuk dapat melihat dengan hati nurani. Toh, masyarakat kita saat ini sudah semakin pandai, sudah bisa menetukan mana yang bias mana pula yang lurus. Karena saya yakin mereka yang tidak suka dengan tegaknya pilar2 kebangsaan Indonesia berdiri tegak pun sedang melakukan proses yang sama untuk menjatuhkan pilar2 tersebut.

  3. Bambang Trisutrisno says:

    Tulisan menarik mas ditengah kebingungan akan nasib Intelejen Negeri ini yang unik. Unik karena disaat terjadi sebuah kejadian entah itu kerusuhan, teror dll.. Semua menunjuk pada bagaimana “sistem peringatan dini” dari Intelejen Negeri ini bekerja, NAMUN dari beberapa sumber menyatakan bahwa, kejadian terjadi setelah Otoritas sudah “diperingatkan” namun tidak ditanggapi seperti dalam kasus kerusuhan Temanggung dan yang terakhir Lampung. Sehingga kadang miris juga ketika hasil kerja mereka dinafikan begitu saja oleh para pengambil kebijakan…

  4. THambrata says:

    Demikianlah sesuai yg saya tulis di atas, bahwa kegemilangan tidak akan dipuji namun kegagalan dicaci maki. Dan yakinlah mereka yg bekerja demi tegaknya pilar2 bangsa tersebut tetap bangga dibalik persembunyiannya dengan apapun penilaiannya dan siapa pun yang menilainya. Para pengambil kebijakkan pun tidak menafikan mereka namun semata2 dengan kebanggaan mereka tetap memegang teguh prinsip

  5. Intelijen bagaimanapun juga harus tetap eksis meski di ombang ambing ketidak pastian politik negara yang di kenal sadis dalam menjatuhkan lawan. Intelijen harus kuat seirama dengan kemampuan anggaran negara dalam memodali setiap operasi yang mayoritas membutuhkan dana tidak murah demi tetap tegaknya NKRI.

    Namun sempat timbul pertanyaan dalam hati, kenapa ketika early warning sudah di berikan akan tetapi kecepatan respon pengambil kebijakan tidak begitu terlihat agresif untuk mengeliminir ancaman yang sudah di tengarai akan timbul sehingga di mata publik ada kesan “mata dan telinga” negara sudah mati alias tidak fungsi. dan yang lebih miris adanya dugaan intelijen di balik semua kerusuhan yang terjadi di wilayah NKRI yang selalu hampir bersamaan dengan agenda strategis negara. dugaan itu begitu kuat di masyarakat sehingga di khawatirkan timbul suatu ketidak percayaan publik akan peran dan eksistensi lembaga intelijen negara, selain itu lemahnya kepercayaan publik akan keberadaan lembaga intelijen negara juga dapat memicu munculnya pihak lain untuk terlibat aktif dalam me-mindset pikiran publik demi tercapainya suatu tujuan dan kepentingan mereka.

    Salah satu contoh pengendalian mindset yang dilakukan oleh pihak lain tersebut yaitu munculnya penggalangan massa (buruh) yang tiba-tiba di “setir” menuju DPR oleh sebagian orang untuk menolak RUU Kamnas dimana mereka mempermasalahkan peran militer dan intelijen dalam penanganan keamanan nasional.

    • THambrata says:

      “satu satunya milik bangsa tetap solid hingga saat ini adalah Tentara Nasional Indonesia” , mungkin kita bisa sering membaca slogan2 demikian, dan kalo intelijen mau menambahkan “selama TNI ini tegak berdiri maka NKRI tetap tegak, jika intelijen tetap tegak maka TNI akan tetap tegak”,

      Intelijen bukanlah sebuah instansi yg bisa melaksanakan aksi, dia hanya pengumpul berita, diolah menjadi berita rahasia dan kemudian di saring lg berita mana yg bisa di publikasi n mana yg TOP SECRET.

      Jika ada opini tentang intelijen dibalik beberapa kerusuhan yg ada di negara kita, maka pertanyaannya adalah “intelijen yg mana?”, ada pro pasti ada kontra demikian sehingga pemanfaatan oleh pihak lain tsb termasuk kegiatan intelijen pihak yg kontra terhadap tegaknya pilar2 kebangsaan Indonesia (menurut saya).

      • sangat menarik sekali pak, inilah yang dimaksud dengan “nggebyak uyah nang segara” (istilah jawa) yang artinya apabila ada salah satu oknum melakukan suatu kesalahan maka yang di pukul oleh publik adalah lembaganya bukan perorangannya dan apabila sesuai dengan pengamatan saya istilah ini akan terus di pelihara oleh pihak kontra untuk mengawal mindset publik agar terus searah dengan tujuan besar pihak kontra.

        Intelijen di indonesia selain ada BIN juga ada BAIS, Polri serta intelijen dari lembaga sipil lainnya dengan masing2 tugas pokok serta fungsinya, namun permasalahannya publik masih belum mampu membaca masing2 job description tiap intelijen yang ada di indonesia sehingga lebih cenderung memukul rata. Andaikan ada publik yang mampu membaca hasil dari peran tiap lembaga intelijen kita belum tentu publik mampu membaca hasil dari aktifitas lembaga Kontra Intelijen yang dilancarkan dari luar wilayah kita.

        Tampaknya masyarakat kita masih perlu belajar dewasa tingkat lanjut agar tidak mudah terombang ambing isu yang bertujuan untuk meruntuhkan 4 pilar kebangsan kita.

        • Bambang Ts says:

          Selain masyarakat yang harus belajar dewasa tingkat lanjut, sudah semestinya pemerintah dan Instansi terkait menjelaskan langsung ke masyarakat sehingga pemahaman yang diterima masyarakat sesuai dengan kenyataan, bukan merupakan pemahaman yang diciptakan oleh yang lain dengan tujuan tertentu….

  6. Arief Yunan Priyoutomo says:

    Orang awam kalo denger kata intelijen pasti ingetnya agen rahasia yang punya lisensi membunuh..
    Lucu kedengarannya tapi fakta..
    Padahal di luar negeri sana data intelijen banyak yang diserap tanpa keterlibatan agen maupun CI..
    Belum apa-apa orang sudah alergi duluan dengan kata-kata “intelijen”..
    Dianggap mengancam HAM lah, penyalahgunaan kekuasaan lah..
    Padahal intelijen ada untuk membuat orang-orang itu bisa beraktivitas sehari-hari tanpa gangguan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *