“Icarus Syndrome” : Kejatuhan Karena Pengabaian Tata Nilai

You may also like...

7 Responses

  1. Bambang Ts says:

    Tambahan pengetahuan yang menarik mas, dan sepertinya sangat cocok dengan apa yang kita hadapi baik dalam keehidupan bermasyarakat dan bernegara sekarang ini. Dulu kita dikenalkan dengan Rencana Jangka Pendek/Panjang Negara dan GBHN yang disosialisasikan sampai tingkat masyarakat terkecil sehingga masyarakat tau akan dibawa kemana Negara kita, saat ini tatanan perencanaan kok sepertinya hanya milik yang diatas dan masyarakat tidak tahu yang berakibat rakyat menjadi “apatis” terhadap masa depan Negaranya…

  2. Jon K. Ginting says:

    Itulah bahayanya sindrom ini mas: terbungkus dlm kemasan serba mewah. Siapapun tidak sadar bhw ia sedang terinfeksi…

  3. masbejo says:

    tulisan yang sangat mewah Bang, kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika para pembuat kebijakan menjadikan habitatnya tidak lebih sebagai officedoom (kerajaan kantor), sehingga berbagai outputnya tidak benar2 mencerminkan kebutuhan organisasi dan masyarakat, dan efeknya pihak-pihak yang tidak sejalan akan di-alienasi-kan… salam.

    • Jon Keneddy Ginting says:

      Itulah sebenarnya bahaya utama dr virus ini. Keinginan atau ambisi itu terkadang baik di permukaan, tapi seiring berjalannya waktu, virus ini akan seperti bom yg setiap saat bisa meledak…

  4. brata says:

    Salah satu contoh saja bang,

    Ketika seorang bawahan sering berbuat “kenakalan” diluar kantor, pemimpin nya terus memarahinya jika terjadi kasus tetapi “pekerjaan diluar” tersebut tetap diijinkan olehnya….

    Pola yang tidak benar bukan bang?

    • brata says:

      Sama saja “memfasilitasi” bawahan utk berbuat salah, tetapi lepas tanggung jawab….

      • Jon Keneddy Ginting says:

        Itulah salah satu contoh praktis bagaimana sebagian besar pemimpin tdk punya cukup pengetahuan, dlm artian gagal utk “memahami dirinya sendiri”. Gagal memahami & memaknai tanggung jawabnya sbg pemimpin. Pemimpin itu kan teorinya punya “tugas, wewenang, & tanggung jawab”, tapi sbgn besar hanya mengagung-agungkan “tugas & wewenang”, thus mrk mengambil kebijakan2 yg pragmatis demi kepentingan diri (& kelompoknya) sendiri, tapi aspek “tanggung jawab”-nya lupa…hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *