Anti Manouverist Approach Menjaga Desired End State Musuh Yang Samar

You may also like...

9 Responses

  1. Apakah benar saat ini Indonesia telah atau sedang menikmati sebuah Manouverist approach dari orang-orang “samar” yang sama sekali tidak ketahui wujud dan asalnya. Kita dapat lihat satu per satu, dimulai dari kondisi masyarakat yang tidak suka dengan peraturan (contohnya adalah menerabas lampu merah jalan raya adalah hal biasa); mau hidup enak dengan sedikit bekerja (terjadi premanisme tersebar di penjuru wilayah Nusantara); menginginkan lapangan pekerjaan tanpa memiliki kemampuan; senang dengan kebebasan ala barat tanpa tanggung jawab (demokrasi kebablasan, padahal kita punya Pancasila yang asli buatan Indonesia); anti kedisiplinan berkedok Hak Asasi Manusia (dalam kasus cebongan Jogjakarta, dimana Komnas HAM menganggap bahwa korban seorang tentara yang dianiaya tidak memiliki HAM); kejadian di tanah Papua pun sempat memanas beberapa minggu lalu (padahal dengan membuka pasar serta mengoptimalkan pendidikan berkualitas saja selesailah masalah Papua); Provinsi Aceh yang gegap gempita mengibarkan bendera GAM sebagai bendera daerahnya sembari menurunkan Sang Merah Putih di beberapa bagian daerahnya; serta berbagai macam kejadian yang jika kita jeli sesungguhnya Bangsa ini sedang dalam kondisi dipecah-pecah.

    Memang nampaknya sekarang aksi2 manouverist approach menjadi pilihan utama dalam mendestabilisasi suatu negara mas. Jamak dilakukan oleh Super Power Dunia, Regional power, dan negara yang ingin menjadi Regional Power baru. Saya ingin mencontohkan Mesir yang punya kebijakan untuk mengamankan kepentingannya untuk menguasai Sungai Nil, maka Mesir melakukan destabilisasi negara2 yang dialiri sungai nil.

    Maka dari itu saya ingin menyampaikan bahwa yang harus kita waspadai bukan hanya super power, tapi juga negara2 yang mempunyai ambisi untuk menjadi regional power

    • THambrata says:

      Betul sekali Prima,

      Dan kompleksitas di kita sebenarnya jauh lebih variatif daripada sekedar berebut sungai Nil….kita ada selat Malaka, ada Selat Sunda….singkatnya kita punya ALKI 1, 2, 3….kita juga punya papua, ada juga ambalat blok, ada juga Aceh yg notabene penghasil gas alam n minyak….hmmm….

      Siapa yg sadar? Siapa yg perduli?

      • betul mas, banyak hal menarik dari bumi nusantara yang membuat negara lain tertarik untuk menguasai baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan ini jauh lebih kompleks, karena kalau di sepanjang sungai nil memang mudah dipecah belah dengan isu suku dan agama, dan sepertinya isu isu itu mulai dimanfaatkan di Indonesia juga

      • radhanadw says:

        Siapa yang sadar? Siapa yang peduli?

        Tepat sekali mas pertanyaan ini jikalau melihat fakta bahwa sebagian besar manusia Indonesia cenderung tidak peduli dan tidak menyadari adanya bahaya Manouverist approach negara-negara tersebut. Betul juga kata Prima di atas, selain adanya perna super power, adanya juga orang2 yang berupaya mengimpor konflik di Timur Tengah, utamanya Syria ke Indonesia.

        Periode Balkanisasi Nusantara sepertinya memang telah dimulai.

        • Brata says:

          Pandangan pribadi saya pun melihatnya demikian, Karena mereka cukup kewalahan mengatasi TimTeng dengan cara kasar dan menghabiskan banyak dana. Maka dari itu manuverist approach mereka lakukan dengan tujuan dapat memenangkan perang terhadap Indonesia tanpa mengeluarkan banyak dana, waktu dan korban maupun kerusakan.

          Dana: mengingat mereka saat ini sedang dalam kondisi kurang baik dari segi moneter

          Waktu: bayangkan dengan spot perang TimTeng saja sudah berapa tempat? Asia Tengah?

          Korban: rekrutmen manusia utk perang pun tidak murah, apalagi menyangkut nyawa manusia

          Kerusakan: hmmm, bayangkan jika mereka menang perang tanpa melakukan kerusakan, bukankah mereka akan menempati wilayah baru yang “siap pakai”?

          Just my two cents..

  2. Bambang Ts says:

    Sebelum Bangsa ini Merdeka, Bung Karno pernah mengingatkan kita dengan kata-kata yang sangat terkenal yang berbunyi “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih susah karena melawan bangsamu sendiri”. Dulu ketika pertama kali membaca saya bingung dengan maksud perkataan Bung Karno tersebut, namun sekarang saya paham. Sebelum merdeka musuh Bangsa ini sangatlah jelas, Bangsa Belanda (Bule) yang jelas segala-galanya berbeda dengan Bangsa kita.
    Namun saat sekarang, Bagaimana mengenali musuh kita diantara banyaknya “Komprador” di Negeri ini..??

    • Brata says:

      Betul sekali masb,

      Sulit membedakan ketika orang2 bule sudah punya “anak cucu” yang selalu meng-amini apa yg bule2 itu rencanakan.

      Musuh kita memang tidak jelas, dulu kita dijajah Belanda, kemudian Jepang…sekarang kita dijajah oleh HAMerika…

  3. Arief Yunan Priyoutomo says:

    Mas, selama ini kan kita memposisikan diri sebagai target destabilisasi negara2 lain.
    Ya kenyataan itu memang sudah jelas di depan mata sih, walau banyak yang gak mau tau.
    Tapi yang ingin saya tanyakan dari pihak kita ada juga gak upaya untuk menerapkan Manouverist Approach ini kepada negara-negara yang potensial menjadi musuh?
    Bukankah salah satu Anti Manouverist Approach ini adalah melakukan counter di negara lawan?
    Atau apa karena negara kita ini selalu Inward Looking, gak pernah Outward?

  4. brata says:

    Nah, itu med…utk ke arah sana semestinya sdh ada, tp gk gau juga mentoknya dimana, krn secara kasat mata kita masih tetap berada dalam posisi terbelenggu…

    Kawan2 disana sebenernya amat sangat handal….namun, menyesuaikan pesan sponsor…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *